^^

I am....

Foto saya
Yogyakarta, DIY, Indonesia
I live Journalistic, I speak Music, I write Paintings, I breath Words. Find me on Instagram as tamikira ! :)
Diberdayakan oleh Blogger.

I love my dad

I love my dad

I love my Mom

I love my Mom



Selasa, 19 November 2013

ABA-ABA

Gulita malam disempurnakan oleh listrik yang padam hampir dua jam lamanya saat “The Conductors” merayap di pikiran. Kilatan bohlam yang perlahan menyala menjadi tanda, awal yang tepat untuk mulai memberi daya laptop, membuka file tugas, lalu mengetikkan kata conductor, sebagai pembuka.


con·duc·tor (k n-d k t r)

noun; Music One who directs an orchestra or other such group.
(kata benda; music Orang yang mengaba-aba sebuah orkestra atau grup sejenis lainnya.)


Rabu, 04 September 2013

Jumat, 16 Agustus 2013

Waktu Yang 'Terbeli'


Gue terduduk kenyang (karena habis makan martabak enak) di depan laptop yang sembari mengeluarkan lagu dan nge-download film.
Gue menyesal karena ada beberapa hal yang harusnya udah kelar tapi gak gue rampungin di kesempatan lalu.
Gue ngerasa segala hal yang berbau waktu udah terbeli menjadi hal-hal yang kurang perlu.

Tapi, hal-hal itu membuat gue menyadari sesuatu.

“Kita hidup di dunia ini berbekal ‘membeli’ waktu.”

Kamis, 15 Agustus 2013

Secangkir Pikiran (Edisi Rambo)


Alkisah terdapatlah temen gue yang duduk di pojokan lorong sebelah sana *nunjuk lorong*. Namanya (sebut aja) Rambo. Gue bakalan memberikan kesaksian tentang hidupnya. Yang mau gue ceritain ini bukan sepenuhnya cerita bahagia. Jadi, kalo lu orang yang mendambakan happy ending, mendingan buru-buru buka post-an gue yang lain.

Ini cerita tentang kehidupan. Kejadian di fase-fase anak muda zaman sekarang. Temen gue, si Rambo, ini memberikan pandangan ke gue tentang relikui menemukan teman spesial. Rambo ini cowok. Di fasenya ini, dia nemuin dua cewek yang berbeda minat dan bakatnya. Ini sekaligus mencerminkan dua akhlak mayor wanita yang ada di dunia.

Jumat, 14 Juni 2013

KUSTA, RSK DR. SITANALA, DAN NIKAH MASSAL (3)

.............


Akhirnya istri itu tidak jadi bercerai dengan suaminya. Ia merawat dan memperhatikan suaminya senantiasa. Bahkan kini, hidup mereka lebih bahagia.

“Kita harus kasih pengertian kepada pasien dan keluarganya. Supaya pasien (kusta) tidak terbuang,” ia mengakhiri cerita suami istri itu sambil tersenyum.

Sudahkah Anda menerima mereka?
Sudahkah Anda menghargai mereka?
Sudahkah Anda menyemangati mereka?

KUSTA, RSK DR. SITANALA, DAN NIKAH MASSAL (2)


.........

Oh iya… Bener… Bener…

“Jadi 1001 (perbandingan) orang yang menengah ke atas (untuk terkena kusta).”


Sedikit pasien meninggal. Antara satu sampai sepuluh, hanya tiga yang meninggal, menurut Ibu Elisabet. Yang membuat ngeri hanyalah kecacatan yang ditimbulkan penyakit akibat bakteri Mycobacterium leprae ini. Kusta tidak menyerang lever. Tidak menyerang jantung. Dari seribu pasien, delapan ratus sembuh total, asal rajin menjalani pengobatan. Kusta menyerang saraf tepi. Pasien-pasien yang meninggal adalah mereka yang terkena penyakit komplikasi. Minuman keras. Rokok. Hidup tidak sehat. Tidak bersih. Itulah penyebab-penyebab kematian. Ulah mereka sendiri.
Kusta basah. Kusta kering. Dua jenis kusta. Luka-luka dan bernanah, itu adalah karakteristik kusta basah. Reaksi dan menimbulkan cacat permanen di anggota tubuh, itu adalah karakteristik kusta kering. Mengerikan, namun tidak mematikan.

KUSTA, RSK DR. SITANALA, DAN NIKAH MASSAL (1)


KUSTA, RSK DR. SITANALA, DAN NIKAH MASSAL
Oleh Maria Meidiatami Kira


 “KUSTA susah matinya!” ujar seorang perawat Rumah Sakit Kusta Dr. Sitanala berdarah Sumatera, Ibu Elisabet namanya.

            Mata sayu. Rambut pendek, sebahu. Anting-anting. Gelang. Kalung. Cincin. Silver. Senyum. Senyum sumringah tersungging di wajah ibu yang lahir pada 24 Oktober 1963 yang masih segar itu. Garis-garis halus di tepian matanya lah yang bercerita tentang lika-liku dunia, yang hampir setengah abad ini ia jalani. Seorang ibu dengan dua putri. Seorang Istri.
Saat bercerita, gelak tawa kecilnya yang khas ibu-ibu mewarnai pendapat-pendapat masyarakat yang masih menganggap kusta sebagai sesuatu yang ngeri. Perawat ini seperti Ernesto Che Guevara, seorang calon dokter yang melakukan perjalanan menuju rumah sakit kusta terbesar di San Pablo dengan mengendarai sepeda motor, dalam The Motorcycle Diaries.

Bersama dengan ibu Elisabet